Kumpulan cerita pendek ini berisi 13 cerpen Ahmad Tohari yang ditulis antara tahun 1976 dan 1986. Seperti dalam karya-karyanya terdahulu, dalam kumpulan ini pun Tohari menyajikan kehidupan pedesaan dan kehidupan orang-orang kecil yang lugu dan sederhana. Dan sebagaimana dikatakan dalam “Prakata”, kekuatan Tohari “terletak pada latar alam pedesaan yang sarat dengan dunia flora dan fauna”…
Di kaki Gunung Panderman, di rumah berukuran 6 x 7 meter, seorang anak laki-laki bermimpi. Kelak, ia akan membangun kamar di rumah mungilnya. Hidup bertujuh dengan segala sesuatu yang terbatas, membuat ia bahkan tak memiliki kamar sendiri. Bapaknya, sopir angkot yang tak bisa mengingat tanggal lahirnya. Sementara ibunya, tidak tamat Sekolah Dasar. Ia tumbuh besar bersama empat saudara perempuan…
Cerita ini berkisar tentang semangat juang Zainuddin, bagaimana merana dan melaratnya hidup Zainuddin setelah cintanya ditolak oleh keluarga Hayati. Kemudian beliau bangun semula dari segala kedukaan, membuka lembaran baru dalam hidupnya menjadi seorang penulis yang ternama dan berjaya. Ia menceritakan tentang kesetiaan, cinta dan kasihnya Zainuddin terhadap Hayati. Meski Hayati sudah berkahwin…
“Pak Arif juga mengeluarkan dua setengah persen dari total penghasilannya. Tapi, yang dua setengah persen itu untuk beliau. Sedangkan yang sembilan puluh tujuh setengah persen beliau infakkan di jalan Allah. Alasannya, karena beliau merasa dirinya yang fakir di hadapan Allah. Maka, beliau mengambil haknya sebagai fakir miskin: dua setengah persen!”rnrnBegitu banyak makna dalam kehidupan ini…
Buku ini berasal dari kehendak untuk memotret kreatifitas dan produktifitas kaum muda, khususnya dalam bidan seni dan budaya.
Sejak lahir, aku seolah ditakdirkan untuk tak jauh dari sepakbola. Tangis pertamaku membuncah ketika televisi meledakkan keriuhan pendukung Argentina setelah berhasil mengalahkan Belanda dalam final Piala Dunia 1978. Saat tumbuh menjadi remaja, aku dan tiga sahabatku menjadi pecandu sepakbola. Kami membentuk klub sepak bola sendiri, kami bertanding antar klub dan bahkan berhasil mengalahkan tim…
Memoar ini mampu mengaduk-aduk humor dan rasa sedih sekaligus - The Guardian
Tetralogi ini dibagi dalam format empat buku. Dan roman keempat, Rumah Kaca, memperlihatkan usaha kolonial memukul semua kegiatan kaum pergerakan dalam sebuah operasi pengarsipan yang rapi. Arsip adalah mata radar Hindia yang ditaruh di mana-mana untuk merekam apa pun yang digiatkan aktivis pergerakan itu. Pram dengan cerdas mengistilahkan politik arsip itu sebagai kegiatan pe-rumahkaca-an.rnrn…
Buku ini secara umum mengajak para pembaca sekalian untuk kembali menelusuri jejak kemegahan m\Majapahit dan kerajaan-kerajaan setelahnya, seperti Kerajaan Demak, Pajang, Mataram Islam, Banten, Cirebon dan Sumedang Larang. Di dalam buku ini, kita juga bisa menemukan hal-hal baru yang mungkin belum Anda temukan dalam buku-buku lain. Akhirnya, selamat membaca.